
Masa SMP merupakan momentum titik balik bagi kehidupan seorang Felix Yanwar Siauw. Pada masa remaja itulah dalam diri Felix timbul keraguan atas agama yang telah dianutnya sejak ia kecil. Berbagai pertanyaan mengenai konsep Tuhan, pengampunan dosa, dan hakikat penciptaan manusia dalam agama Katolik muncul dalam benaknya. ''Di agama saya yang lama memang banyak hal yang tidak terjawab pada waktu itu,'' ujarnya.
Sebagai contoh, ketika ia menanyakan soal trinitas dan keberadaan Yesus sebagai Tuhan kepada pastor, jawaban dari semua pertanyaaannya tersebut berakhir pada kata dogma, yakni ajaran yang sudah ada sejak dahulu dan tidak boleh dipertanyakan oleh orang-orang yang beriman kepada Yesus.
Ketika mendengar jawaban seperti itu dari sang pastor, akhirnya Felix lebih memilih untuk mundur dari agama Katolik. Keputusan untuk keluar dari agama Katolik, menurut ayah satu orang putri ini, juga dilandasi oleh kenyataan mengenai praktik-praktik keagamaan yang dilihatnya hanya sebagai sebuah ritual kosong.
''Saya melihat selama ini teman-teman saya datang ke gereja hanya untuk sebuah proklamasi kalau dia sudah punya pacar, kemudian dibawa ke gereja atau sekadar hanya untuk pamer pakaian bagus,'' ungkapnya.
Ketika ia memutuskan meninggalkan agama Katolik, sejak saat itu pulalah ia tidak percaya adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Masa-masa seperti itu ia alami hingga menjelang akhir duduk di SMP.
Begitu memasuki kelas tiga SMP, berbagai pertanyaan yang pernah ada dahulu, muncul kembali dalam benaknya. Kemudian, dia mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut ke mana-mana. Hingga kemudian, dirinya sampai pada satu kesimpulan bahwa Tuhan itu memang benar ada.
Keyakinannya bahwa Tuhan itu ada muncul setelah ia mempelajari ilmu biologi bahwa penciptaan manusia dari sperma yang tidak mempunyai akal. Dari sini ia memahami bahwa manusia itu diciptakan dari sesuatu yang amat istimewa. ''Kemudian saya kembali yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi, namanya siapa ini yang belum jelas,'' tambah Felix.
Percaya tapi tak beragama
Meskipun meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun hal itu tidak lantas membuat Felix memutuskan untuk memilih salah satu ajaran agama sebagai jalan hidupnya. ''Ketika saya mencari siapa sesungguhnya Tuhan itu ke Kristen Protestan, tidak dapat. Begitu juga di agama Buddha, karena tuhannya juga bersifat manusia, tidak layak untuk dijadikan Tuhan,'' paparnya.
Percaya Tuhan, tapi tidak beragama, begitulah kira-kira gambaran kehidupan spiritual yang sempat dijalaninya selama kurun waktu lima tahun. Selama itu pula, ia hidup dengan bayang-bayang tiga pertanyaan besar. Yakni, setelah mati manusia mau ke mana, untuk apa manusia diciptakan di dunia, dan dari mana asal mulanya alam semesta tercipta.
Ia terus mencari jawaban dari ketiga pertanyaan besar ini. Proses pencarian itu berakhir di pertengahan tahun 2002, begitu dirinya menginjak bangku kuliah semester ketiga di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ketika itu, dirinya memutuskan pindah tempat kos. Di tempat kos yang baru ini, ia tinggal bersama-sama dengan mahasiswa yang beragama Islam.
Suatu ketika salah seorang teman kosnya yang Muslim menyarankannya untuk menemui seorang ustadz untuk mendiskusikan tiga pertanyaan besar itu. ''Saya bilang, selama ini saya diskusi dengan ustadz sama saja. Mereka enggak ada bedanya dengan pastor, cuma mereka pintar menyembunyikan kejahatannya,'' ujar Felix menanggapi saran temannya kala itu.
Temannya tidak putus asa untuk membujuk Felix agar mau bertemu dengan guru ngaji itu. Ketika ia bertemu langsung dengan sang ustadz, dirinya menemukan pandangan mengenai Islam yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipahaminya sebelumnya.
''Ternyata yang saya temukan dalam Islam berbeda. Saya menemukan suatu konsep yang sangat luar biasa. Di mana dia (Islam--Red) menyediakan konsep akhirat dan juga dunia. Artinya, Islam ini bisa menjawab seluruh pertanyaan saya,'' ujarnya.
Dari sini kemudian dirinya tertarik untuk mempelajari Alquran lebih dalam. Salah satu ayat di dalam Alquran yang membuatnya berdecak kagum adalah surat Albaqarah ayat 2 yang menyatakan, ''Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa.''
Kendati demikian, pada saat itu ia masih mengira bahwa yang menciptakan kitab suci ummat Islam ini adalah seorang manusia biasa, seperti halnya kitab suci agama yang lain. Namun, ketika sampai padanya penjelasan bahwa Alquran itu bukan buatan manusia, ia menganggap hal itu sebagai lelucon. Dia pun meminta bukti bahwa penjelasan itu benar adanya.
Keraguan tersebut kemudian terjawab melalui surat Albaqarah ayat 23 yang menjelaskan, ''Dan bila kalian tetap dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan ini, datangkanlah kepada Kami satu surat yang semacam dengannya.''
Bagi dirinya surat Albaqarah ayat 23 ini merupakan sebuah segel dan tantangan terbuka buat manusia, tapi manusia tidak ada yang bisa membuat seperti itu. Dari diskusi panjang tersebut Felix merasa yakin bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan dari Tuhan pencipta semesta alam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memilih Islam--di saat usianya baru menginjak 18 tahun--sebagai jalan hidupnya hingga kini.
Mengetahui anaknya masuk Islam, sudah pasti kedua orang tua Felix syok dan marah. Namun, kemarahan keduanya hanya ditunjukkan dalam bentuk rasa kekecewaan. ''Kalau sampai pada pengusiran memang tidak terjadi seperti yang dialami mualaf lainnya.''
Rasa kecewa tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya dengan kata-kata pedas. ''Kamu ini kemasukan setan atau jin. Kamu itu seperti mutiara yang menceburkan diri ke dalam lumpur.'' Lalu saya katakan, ''Lumpurnya yamg mana dan mutiaranya yang mana.''
Namun, dengan berbagai upaya yang Felix lakukan selama tiga tahun, kini kedua orang tuanya sudah bisa menerima pilihan hidupnya itu. Meski dalam beberapa hal, baik ayah maupun ibunya, masih belum bisa menerima perbedaan tersebut. Seperti ketika putrinya yang masih berusia satu tahun mengenakan kerudung.
''Kalau anak saya dibawa ke tempat orang tua pakai kerudung, ibu saya tidak akan mau menggendongnya. Tapi, bapak saya masih mau menggendongnya,'' ungkapnya.
Sementara sang ayah merasa keberatan jika cucu perempuannya itu diminta untuk memanggil Felix dengan sebutan abi. Pasalnya, menurut sang ayah, panggilan abi tersebut tidak ada kewajibannya di dalam Alquran.
Kendati begitu, ia merasakan sebuah kepuasan diri yang tidak pernah dirasakan sebelum menemukan Islam. Selain itu, dengan meyakini Islam, hidupnya menjadi lebih bermakna dan terarah.
''Merasa puas karena setiap fenomena yang saya lihat dalam hidup ini bisa dijelaskan dengan Islam. Saya juga lebih punya tujuan hidup karena saya sudah tahu dari mana asal saya, apa yang harus saya lakukan di dunia ini, dan saya mau ke mana setelah mati,'' ujarnya.
Sumber
Minggu, 16 September 2012
Felix Yanwar Siauw: Dengan Islam Hidup Jadi Terarah
Kamis, 29 Maret 2012
Subhanallah, Pria Yahudi Ini Mengislamkan Jutaan Orang

Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani.
Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.
Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam.
Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.
''Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,'' ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.
***
Kisah Jad dan Ibrahim
Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun.
Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.
Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.
"Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!" ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.
Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah.
Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.
Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun.
Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.
Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya.
Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan "Hei Yahudi" atau "Hei kafir" bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.
***
Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.
Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.
Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, "Buku apakah ini?" tanyanya. Temannya pun menjawab, "Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam," ujarnya.
Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, "Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?"
Temannya menjawab, "Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat." Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.
Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini.
Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.
Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.
"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..." Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad.
Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.
Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Subhanallah.
Sumber
Selasa, 17 Januari 2012
Yakin Agama Bukan Materi, Paul Martin Bersyahadat di Toko Es Krim

Lelaki Inggris itu masih seorang mahasiswa ketika ia memutuskan beralih memeluk Islam empat tahun lalu. Tempatnya bersyahadat pun tak biasa yakni di toko es krim di kota Manchester.
Paul Martin, 27 tahun, bosan menyaksikan gaya hidup hedonis dari banyak teman-temannya di universitas. Alih-alih ia tertarik dengan aktivitas mencari ilmu dan pengetahuan, kegiatan yang ia sebut titik utama Islam.
Perjumpaannya dengan seorang Muslim yang lebih tua lantas mengubah hidupnya.
"Saya suka cara para pelajar Muslim membawakan diri mereka. Sangat indah untuk berpikir bahwa ada orang yang hanya memiliki satu pasangan dan bersetia selama hidupnya dan tidak melakukan perbuatan yang bisa menyakiti tubuh," ungkapnya.
Paul mengaku lebih menyukai gaya hidup Islami dan ia pun mencoba mengkaji Alquran. "Saya kagum melihat keutaman dalam Islam ternyata pada ilmu," ungkapnya lagi.
Seorang teman Muslimnya kemudian mengenalkan Paul dengan seorang dokter Muslim yang beberapa tahun lebih tua. "Kami pergi dan berbincang di kedai kopi. Beberapa pekan kemudian kami mampir ke restoran es krim dan di sanalah saya mengutarakan keinginan menjadi Muslim," tuturnya.
Dalam toko es krim itu pula dituntun si dokter dan disaksikan dua temannya, Paul mengucapkan syahadat. "Saya tahu beberapa orang ingin melakukan dengan formal di dalam masjid, tapi saya berpikir agama bukanlah materi, melainkan apa yang ada dalam hatimu," ungkapnya.
Paul mengaku tak pernah ke masjid sebelum menjadi Muslim. Pasalnya, kadang ia merasa terintimidasi. 'Maksudnya, saya selalu berpikir tidak masuk kriteria seorang Muslim. Namun tak ada yang tak mungkin, anda bisa menjadi Muslim Inggris dan tetap mengenakan celana jins, kaos, kemeja, juga jaket," ungkapnya. Kini, imbuhnya, di masjid yang kerap ia sambangi di Leeds, banyak bahasa diucapkan dan juga banyak jamaah mualaf dari berbagai kebangsaan.
Saat memeluk Islam, Paul mengakui tak serta merta memberi tahu keluarnganya. "Saya tak bisa sekedar pulang lalu berkata saya sudah jadi Muslim. Ada proses bertahap," tuturnya.
Ia pun mengalami proses panjang sebelum beralih menjadi Muslim ketika ia mulai tak menyantap babi dan tidak menenggak alkohol lagi. "Tapi kami masih menggelar makan malam bersama di Hari Ahad, namun hanya menyediakan kambing, itu pun halal." tutur Paul.
"Terus terang jika dulu ada seorang teman di kampus berkata, 'Kamu akan menjadi Muslim,' saat itu saya tidak akan mempercayainya meski berjuta tahun lamanya. Itu lompatan tak terbayangkan dan berlebihan," ujarnya. "Namun kini, siapa yang bisa menduga dan saya baru saja kembali dari menunaikan ibadah Haji."
Sumber
Pertama ke Masjid, Khadijah Roebuck Kendarai Mobil Sport dengan Musik Bising

Wanita ini terlahir 48 tahun lalu dengan nama Tracey Roebuck dalam keluarga Kristen taat. Ia menikah selama duapuluh lima tahun dan rajin mengunjungi gereja bersama anak-anaknya setiap pekan ketika mereka tinggal di rumah.
Kini ia sudah bercerai. Dalam enam bulan terakhir ia telah menjadi Muslim. Namun ia kadang ia masih tak yakin apa yang memotivasinya untuk membuat perubahan besar dalam hidup meski ia yakin dengan agama yang dipeluknya sekarang.
"Saya tahu bakal terdengar aneh, namun satu hari saya adalah Tracey yang masih Krisen dan pada hari berikut saya adalah Khadijah seorang Muslim dan semuanya terlihat benar," tuturnya.
Sebelum menjadi Muslim, yang Khadijah pahami soal Islam hanyalah tak menenggak alkohl dan tak menyantap babi. "Saya masih ingat pertama kali berkendara ke masjid. Saat itu lucu. Saya mengendarai mobil sport dengan musik keras-keras" kenangnya.
Khadijah tak yakin bakal dibolehkan masuk namun ia nekat. "Saya bertanya siapa yang bertanggung jawab di sini. Saat itu saya tak tahu bahwa ia adalah imam. Kini siapa menyangka saya mengenakan jilbab dan shalat lima kali dalam sehari," ujarnya.
Saat memeluk Islam, putranya adalah orang yang pertama kali kaget bercampur ngeri. "Ia sulit mempercayai. Yang paling sulit adalah ibu saya mengingat ia adalah pemeluk Katholik Roma taat," tutur Khadijah. Ibunya tidak bisa menerima sama sekali perubahan putrinya.
"Tapi yang terutama yang saya rasakan saat memeluk Islam adalah perasaan damai yang tak bisa saya temukan di Masjid, itu sangat menarik," ungkapnya. Perasaan itu, imbuh Khadijah, kian kental dan menguat saat Ramadhan tiba. "Saya sungguh mencintai setiap detiknya hingga hari terakhir Ramadhan, saya bahkan menangis," tuturnya.
Saat menjadi Muslim ia menyadari bahwa banyak orang di luar agama tersebut bingung membedakan antara Islam dan budaya. Khadijah mulai memahami bahwa Muslim membawa budaya mereka yang berbeda ke masjid begitu pula adat dan intepretasi berbeda. "Ada muslim Saudi, Mesir, Pakistan dan tentu saja ada saya di sana," ungkapnya.
Khadijah tak ingin terjebak dalam satu budaya. Ia selalu mencoba berbaur dan berteman dengan siapa pun. "Saya bisa dimana saja karena itu banyak saudara sesama Muslim berkata, "Itulah mengapa kami mencintaimu Khadijah, kamu menjadi dirimu sendiri."
Sumber
Minggu, 13 November 2011
Tiga dari Empat Mualaf Inggris Ternyata Perempuan. Ini Alasan Mereka Memilih Islam

Tiga perempat dari mualaf Inggris adalah perempuan. Richard Peppiatt dari Independent telah menemukan bahwa dari 5.200 warga Inggris yang masuk Islam pada tahun 2010, lebih dari 50 persennya adalah warga kulit putih dan tiga perempat dari mereka adalah perempuan.
Selain itu, peneliti yang berbasis di Swansea University juga menemukan bahwa dari 40 ribu orang di Inggris masuk Islam dalam 10 tahun terakhir, dan mayoritas adalah perempuan.
Temuan ini hampir senada dengan Faith Matters, yang menyebut 53 persen dari mualaf Inggris kulit putih adalah perempuan. Angkanya meningkat 66 persen pada kurun 2002-2010 dibanding dengan rentang waktu yang sama sebelum 2001.
Umumnya, para mualaf ini terbentur dengan problem sehari-hari, untuk mengintegrasikan keyakinan mereka yang baru dalam batas-batas yang lebih luas dari masyarakat, di mana mereka sering dianggap sebagai orang luar, meskipun berlatar belakang Barat. Sebuah studi baru-baru ini di Leicester menemukan fakta mengejutkan bahwa 93 persen masjid memerlukan layanan untuk mualaf, tetapi hanya 7 persen dari mereka yang bisa memenuhi kebutuhan ini.
Kevin Brice, yang melakukan penelitian yang luas dalam perkembangan sosiologis mualaf, berbicara kepada The Outlook tentang beberapa alasan mengapa wanita masuk Islam. "Islam menawarkan wanita rasa perlindungan dan identitas - ini mungkin terdengar kontra-intuitif diberikan cara Islam biasanya digambarkan di media - tetapi beberapa wanita menemukan pakaian sederhana yang dibutuhkan oleh Islam ini bersifat 'membebaskan'," katanya.
Islam, katanya, juga dipandang sebagai lebih mendukung nilai-nilai keluarga 'kuno', dan perempuan memiliki peran yang jelas dalam keluarga. Banyak mualaf yang mulai menemukan Islam dari keresahan mereka dengan alkohol dan mabuk-mabukan, kurangnya moralitas dan kebebasan seksual, dan konsumerisme, semua yang dilihat sebagai lazim dalam masyarakat Inggris. "Islam menawarkan mereka sebuah pendekatan yang berbeda," tambahnya.
Brice juga berbicara tentang sejumlah kesalahpahaman yang berhubungan dengan mualaf. "Pertama, penting untuk mengenali bahwa mayoritas mualaf telah dikonversi melalui pilihan bebas dan melihat diri mereka tetap sebagai orang Inggris dan Muslim. Mengkonversi tidak mewakili tudingan licik bahwa mereka bertekad untuk mengganggu cara hidup Barat," katanya.
Sumber
Jumat, 07 Oktober 2011
Penjaga Penjara Guantanamo Masuk Islam

Penjaga penjara Guantanamo di Cuba dikabarkan masuk Islam pada bulan Desember tahun 2003. Pengawal yang tertulis bernama Terry Holdbrokes ini menurut harian Asyarqul Awsath edisi Selasa (14/4/2009), kini aktif di masjid Arizona, AS.
Terry masuk Islam setelah berdiskusi panjang lebar dengan 590 tahanan yang didakwa teroris oleh mantan Presiden AS Geroge W. Bush. Terry berbeda dengan tentara lainnya yang menghabiskan waktu dengan bermain atau menyiksa tahanan, Terry lebih suka mempelajari Islam.
Terry masuk Islam melalui `sang Jendral` Ahmad Rasyid yang berasal dari Maroko. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Terry mengubah namanya menjadi Musthafa Abdullah. Nama Musthafa adalah pemberian Rasyid, dan nama Abdullah adalah pilihanya sendiri.
Harian Asyarqul Awsath mencoba menghubungi Pentagon terkait kasus Terry. Menurut Jeffrey Gordon, juru bicara Pentagon, pemerintah AS menghormati kebebasan beragama dan tak mempermasalahkan perpindahan agama.
"Bahkan banyak tentara AS yang muslim kini mengemban tugas di Irak dan Afghanistan," katanya. Menurut Gordon, pemerintah AS menghormati setiap keyakinan warga negaranya dan tak menganaktirikan satu agama dengan agama lainnya.
Memang, kasus Terry, bukan kasus satu-satunya di AS. Bahkan sejak peristiwa 11 September 2001, kemuncak amarah dan kebencian warga AS terhadap Islam mengakibatkan banyak warga non-Islam yang ingin mengenal Islam dan bahkan banyak pula yang kemudian beralih masuk agama Islam.
Sumber
Minggu, 02 Oktober 2011
Penemu Sungai Dalam Laut Itu pun Masuk Islam

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Channel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Captain Jacques Yves Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat bingung Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laayabghiyaan…” Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Subhanallah… Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Wallahu a’lam.
Sumber
Kamis, 29 September 2011
Ketika "Rapper" Masuk Islam

Beralih memeluk Islam, seorang tak hanya harus mengucap syahadat. Mereka pun memasukkan sikap "tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai nabi" dalam kehidupan sehari-hari.
Namun menjadi seorang penyanyi rap, situasi menjadi sedikit lebih rumit. Kemampuan teknis--mempelajari ritme, membangun kosakata, plus mengolah suara--sering membutuhkan tahunan untuk melatih, dan belum termasuk perkara tak kecil soal membentuk beat, dan produksi musik.
Sementara para rapper yang beralih Islam juga harus mengubah gaya hidup mereka. Menjadi pengetahuan umum dalam industri musik rap, penyanyi rap paling sukses di pasar memfokuskan lagu-lagu dan penampilan mereka di publik dengan beberapa daftar kecil: masa lalu miskin, obat-obatan--terutama sebagai pengedar--, senjata, rekaman kriminal, uang cepat datang, dan wanita.
Dua hal yang mustahil bertemu. Namun dalam sebuah film dokumenter terbaru berjudul "New Muslim Cool" tentang muallaf Puerto Rico, Hamza Perez, yang akhirnya berhenti menjadi pengedar obat-obatan demi memeluk Islam, ternyata tak berhenti dengan hip-hop.
Kehidupan Hamza yang baru kini lebih kaya dengan hal-hal tak biasa, seperti penyerbuan FBI tiba-tiba ke dalam masjidnya tanpa alasan, hingga pengalaman mendidik penghuni sel di penjara negara bagian sampai ijin keamanan dan masuk penjara secara misterius diganti.
Pendengar idealnya pun tak lagi label besar, melainkan para pemuda di sudut-sudut jalan, merekalah yang disodori Hamza album lagu sekaligus cara menempuh hidup barunya.
Ia tidak menganggap hal itu aneh. Ia menganggap musiknya sebagai bentuk dakwah atau pencapaian religius. "New Muslim Cool" sendiri akan diputar di PBS pada 23 Juni mendatang. Sementara label rekaman album Hamza, berbasis di Bay Area--wilayah dimana terdapat salah satu konsentrasi hip-hop Islam di Paman Sam.
"Oh saya cinta menjadi warga Bay," ujar Tyson Amir Mustafa, seperti yang dikutip oleh San Fransisco Chronicle. Amir-Mustafa, 29 tahun, warga asli San Jose, juga penyanyi rap yang beralih memeluk Islam. Ia sendiri telah melepas empat album rap bernuansa Islamnya.
"Islam masih muda di sini. Komunitas Musim masih membentuk identitasnya, dan cara hidup Islam adalah identitas utama Muslim Amerika, tanpa dipertanyakan dua hal itu dapat berjalan beriringan.
Dan hal kedua yang menjadi identitas tersebut tak lain adalah hip-hop. Banyak penyanyi rap lokal Islam telah menyanyi jauh sebelum mereka menjadi Muslim.
"Saya mulai menulis puisi, memenangkan penghargaan penulisan puisi ketika saya masih 10 tahun," ujar Amir Abdul-Shakur, 26 tahun, asal Oakland. "Lalu saya mulai manajamkan kemampuan rap saya di tengah-tengah sekolah," imbuhnya.
Abdul Shakur yang bernyanyi rap di bawah nama Five Eighty, memeluk Islam pada 2000 silam. Ia mengaku tidak menemukan kontradiksi. "Namun ada banyak hal yang tidak bisa saya ucapkan. Ada banyak hal yang tidak bisa saya lakukan lagi," ujarnya.
Hal-hal itu tentu saja termasuk minum alkohol, menggunakan obat-obatan, segala perilaku kriminal, dan seks bebas. Amir Abdul Shakur dan Tyson Amir Mustafa menikah semua.
Itu mungkin terlihat sulit untuk menciptakan lirik dengan keterbatasan, hingga mereka menyadari keduanya mampu memiliki topik lebih besar ketimbang rapper arus besar lain; perjalanan pribadi mereka. Lagi pula semua pasar rap bercampur dengan usia sama--siapa yang bisa mengambil resiko berbeda dan penghargaan ketimbang penyanyi rap Muslim muallaf.
"Kamu sepenuhnya telah berbeda," ujar Amir-Mustafa. "Orang-orang telah melihat ke arahmu dengan semua asosiasi dan pandangan selip. Lantas mengapa tidak ambil saja kesempatan itu untuk menyoal hal-hal yang tak biasa mereka dengarkan, seperti integritas? Mengapa tidak bicara mengapa kau putuskan berjalan ke arah berbeda?" papar Amir-Mustafa panjang lebar.
Sumber
Sabtu, 24 September 2011
Model AS Sara Bokker: Menjadi Muslim, Aku Bak Terbebas dari Belenggu Perbudakan

Dari kecil, tak ada cita-cita lain Sara Bokker, seorang model, selain hidup berbalut kemewahan. Itu pula yang mendasarinya memilih tempat tinggal di Florida dan kemuadian South Beach di Miami, hotspot bagi mereka yang mencari kehidupan glamor. Di usia awal 20-an, ia sudah meraih mimpinya: menjadi seorang model dan personal trainer, tinggal di apartemen kelas atas, dan tiap akhir pekan berjemur sepanjang siang di Pantai Miami yang eksotis. "Sungguh sebuah living in style sesungguhnya, seperti yang kuimpikan," katanya.
Hingga kemudian, ia mengenal paham feminisme. Ia berkaca lagi. "Aku merasa aku adalah budak mode. Aku adalah 'sandera' bagi penampilanku sendiri," katanya.
Ia mulai melarikan diri dari dunia glamornya. Ia meninggalkan alkohol dan pestapora yang tak pernah dilewatkannya, dan melarikan diri pada meditasi, menjadi aktivis feminis, dan menekuni apa yang disebutnya 'agama alternatif'. "Namun kusadari kini, itu semua hanya sebatas 'pembunuh rasa sakit' dan bukan obat yang sesungguhnya," katanya.
Di tengah kebimbangannya, Tragedi 11 september 2001 terjadi. Perang salib baru dikobarkan di seluruh Amerika Serikat, begitu ia menyatakan. Namun bagi Sara, hikmah lain datang: ia jadi mengenal ada agama bernama Islam...dan membuatnya penasaran. Informasi yang didapatkan pertama kali tentang agama ini adalah: wanita terkurung dalam tenda, diikuti oleh umat yang merupakan 'para pemukul istri', harem, dan terorisme. Sesuatu yang sungguh berlawanan dengan paham feminisme yang mulai merasuk dalam dirinya.
Suatu hari, secara iseng ia membuka kitab yang disebutnya sangat kontroversial di Barat; Alquran. Ia terhenyak. "Aku pertama kali tertarik pada gaya dan pendekatan Alquran, dan kemudian tertarik pandangan tentang eksistensi, kehidupan, penciptaan, dan hubungan antara Pencipta dan ciptaan," katanya. "Aku menemukan Alquran sangat menghujam dalam sanubari, bahkan untuk memahaminya kita tak perlu interpreter atau pendeta."
Ia makin giat mempelajari Islam setelah itu. Ia membeli banyak buku-buku keislaman, atau membacanya di internet. "Hingga satu hari tanpa sadar aku membeli gaun panjang yang cantik dan penutup kepala menyerupai busana wanita Muslim dan berjalan menyusuri jalan yang sama dan lingkungan di mana beberapa hari sebelumnya aku berjalan dalam celana pendek, bikini, atau pakaian ala Barat lainnya," katanya.
Meskipun orang, lingkungan, dan toko-toko semua sama seperti sebelumnya, namun ia merasa berbeda melihatnya. Terutama, saat melihat dirinya. "Bila sebelumnya orang melihatku dengan pandangan bernafsu, bak pemburu melihat mangsanya, dengan busana ini aku tak menemukannya. Tiba-tiba aku merasa rantai yang membelengguku sudah terlepas...dan aku kini bebas!" katanya.
Ia menemukan islam di jantung kehidupan bebas dunia, Amerika, Miami tepatnya. Di kota ini, ia bersyahadat.
"Hari ini aku masih seorang feminis, tapi seorang feminis Muslim, yang menyebut kaum perempuan memikul tanggung jawab mereka dalam memberikan semua dukungan yang mereka bisa dan menjadi muslim yang baik. Untuk membesarkan anak-anak mereka sebagai Muslim sehingga dapat menjadi cahaya untuk seluruh umat manusia," katanya. Satu lagi hal penting yang dilakukannya: menyampaikan pengalamannya pada sesama perempuan yang mungkin tidak pernah memiliki kesempatan seperti dirinya.
Sumber
Minggu, 18 September 2011
Peter Casey Tak Sungkan Shalat di Kedai Starbucks
Peter Casey, atau Abdulmalik, berlatar belakang Yahudi-Kristen. Namun pencarian spiritual pemuda berusia 23 tahun ini bermuara pada Islam. Pada usia 15 tahun, lulusan Queens College ini memutuskan bersyahadat.
Kini namanya dikenal secara luas baik di negerinya, Amerika Serikat, maupun dunia internasional setelah pengakuannya memilih Islam tersebar luas di jagat maya. Alih-alih takut akan keselamatan nyawanya mengingat fobia Islam kembali mengental di AS menjelang peringatan tragedi 11 September, ia malah rajin menunjukkan keyakinan barunya di depan publik.
Ia misalnya, selalu pergi ke masjid setiap hari dengan 'menumpang' skateboard-nya -- gaya khas anak muda AS. Ia juga jarang berpikir dua kali untuk melakukan ibadah shalat di Starbuck, jika kebetulan ia tengah nongkrong di sana dan waktu shalat telah tiba.
Pria bermata biru ini mengaku pantang menyembunyikan identitas keislamannya. Sebaliknya, ia mengatakan ia berusaha untuk "menantang stereotip dan kesalahpahaman" orang lain di sekitarnya tentang Islam.
Sebagai seorang mualaf yang dibesarkan di pinggiran kota dengan latar belakang Yudeo-Kristen, Casey berada dalam posisi yang sebetulnya 'mustahil' untuk melakukannya. Namun, itulah tekad Casey; membuat orang belajar menerima seorang Muslim apa adanya, mulai dari cara dia berpenampilan, berbicara, dan bertindak.
Casey dibesarkan di pinggiran Long Island oleh ibu yang beragama Yahudi dan ayah Katolik. Ia tumbuh dalam keluarga yang bertolak belakang dalam melihat Yesus. Di satu sisi, kekristenan berbicara tentang Yesus sebagai Allah Putra, Allah Bapa, dan roh Kudus. Di sisi lain, Yudaisme berbicara tentang Yesus sebagai seorang mesias palsu.
"Saya merasa ada dua hal ekstrem di sana, dan saya mempelajari keduanya," kata Casey.
Dan kemudian, pasca-serangan 11 September 2001, pemahaman mulai berubah. Dia baru berusia 13 tahun saat dua menara kembar WTC itu runtuh. Sejak itu, ia rajin berselancar di dunia maya mengorek isi ajaran Islam -- yang pada awalnya dituduhkan berada di balik serangan itu. Ia menemukan doktrin yang lebih masuk akal tentang Yesus: dia seorang nabi, seorang pria yang menyampaikan firman Allah. Tidak lebih, tidak kurang.
"Ketika saya mulai belajar tentang Islam, saya seperti:" Ini dia. Ini adalah agama itu," katanya.
Dua tahun kemudian, pada usia 15 tahun, ia masuk Islam. (Orang tuanya menolak memberikan komentar untuk cerita ini).
Sejak itu, pria yang baru-baru mulai mengajar sejarah di sebuah sekolah Islam di Brooklyn, telah berupaya untuk meluruskan kecurigaan publik AS pada Islam. Tak hanya melalui perbuatan -- seperti bershalat di tempat umum dan ramah pada siapa saja -- ia juga aktif berdakwah melalui blog-nya yang bertajuk 'Dawah Addict'. Tema-tema seperti 'Muhammad dalam Alkitab' dan 'Bagaimana Menjadi Seorang Muslim' diulasnya tanpa canggung.
"Ketika saya pertama kali menjadi Muslim, dan masih terdengar hingga hari ini, orang-orang berkata,'Mengapa tidak ada lebih banyak Muslim yang mengatakan terorisme adalah buruk? Mengapa tidak ada Muslim di luar sana mengatakan tentang Islam yang sebenarnya?'," kata Casey. "Dan saya pikir, yah, saya akan melakukannya jika tidak ada orang lain yang akan melakukannya."
Saluran Casey di YouTube memiliki lebih dari 5.000 pelanggan dan hampir setengah juta pengunjung. Meskipun pendengarnya terus tumbuh, dia juga mengalami hambatan, antara lain berbagai bentuk komentar marah dan sanggahan.
Namun, dia tak surut ke belakang. Alasannya sederhana: "Saya merasa seperti saya memiliki tanggung jawab kepada orang-orang di Amerika," katanya, "Karena ini adalah tempat saya tumbuh dan ini adalah rumah saya, dan saya ingin berbagi apa yang membuat saya sangat bahagia dan telah membawa saya kedamaian begitu banyak."
Sumber
