
Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW membandingkan antara dunia dan surga. Kata beliau, "Kavling yang paling kecil di surga nanti adalah seperti dunia ini ditambah sepuluh kali lipatnya."
Tentu ada orang yang kemudian bertanya, "Di mana pula lokasi surga itu? Padahal, dunia ini sudah sangat luasnya, dan tampaknya tidak ada seorang pun yang pernah menapakkan kakinya di atas semua dataran dunia ini?"
Pertanyaan orang tadi mencerminkan keraguannya atas adanya alam surga sebagaimana yang diilustrasikan oleh Nabi SAW. Dan orang tersebut mewakili salah satu dari tiga tipe orang dalam menyikapi surga khususnya, dan alam akhirat umumnya.
Ibarat anak ayam yang masih berada di dalam cangkang telur, begitulah manusia di dunia ini. Ibaratnya pula, anak ayam yang belum menetas itu diberi tahu bahwa setelah tiba saatnya, mau atau tidak, ia akan keluar meninggalkan dunia telur ayam tersebut, dan akan masuk ke dalam alam yang luasnya jauh bermiliar-miliar lebih besar daripada dunianya di dalam cangkang telur yang ia diami sekarang ini.
Dalam menyikapi berita tersebut, ada tiga tipologi anak ayam. Pertama, anak ayam yang sama sekali tidak percaya terhadap berita itu. Di mana ada alam yang besar seperti itu, sedangkan baginya, dunia telur ayam itu sudah sangat lebar. Ia bisa bermain ke kanan kiri dengan leluasa. Begitu alur pikirannya.
Kedua, anak ayam yang tidak mau tahu-menahu tentang berita itu. Baginya, itu adalah urusan nanti. Seperti halnya anak ayam yang pertama, ia tidak pernah membuat persiapan untuk hidup di alam nanti.
Dan ketiga, anak ayam yang percaya mutlak bahwa apa yang diberitahukan kepadanya itu benar. Alasannya, pihak yang memberi tahu itu adalah pihak yang dipercaya. Maka, kendati ia belum pernah melihat alam itu, ia pun percaya hal itu sepenuhnya. Sebagai bukti atas keyakinannya itu, ia pun membuat persiapan-persiapan untuk memasuki alam tersebut nantinya.
Setelah tiba masanya, ketiga anak ayam itu akan meninggalkan dunia telur ayam dan masuk ke alam dunia. Dan anak ayam yang pertama dan kedua baru percaya bahwa apa yang pernah diberitahukan kepada mereka itu benar.
Begitulah manusia di dunia ini menyikapi adanya alam surga nanti. Ada yang tidak percaya, tidak tahu menahu, dan percaya sepenuhnya. Bila sudah tiba saatnya, mereka akan keluar dari alam dunia ini, dan masuk ke alam akhirat yang luasnya jauh lebih besar dari dunia ini. Dan dari tiga tipe manusia itu, hanya satu yang akan tinggal di surga, yaitu yang percaya dan mempersiapkan diri untuk itu.
Sumber
Minggu, 11 Desember 2011
Manusia Di Cangkang Telur
Mengapa Ingin Jadi Pemimpin ?

Banyak orang yang ingin jadi pemimpin. Motif mereka pun bermacam-macam. Ada yang sebatas ingin mendapatkan prestise, fasilitas, kehormatan, dan nama besar. Ada pula yang benar-benar tulus, ingin membuat perubahan agar masyarakatnya menjadi lebih baik.
Konsekuensinya, beragam motivasi tersebut melahirkan model dan gaya kepemimpinan yang bermacam-macam. Model pemimpin yang pertama biasanya sangat hati-hati, tidak banyak mengambil keputusan yang berisiko, agar posisinya tetap aman.
Dia menginginkan suasana stabil dan tenang; perlu anak buah loyal dan menuruti perintahnya, sekalipun tidak pintar. Orang pintar dan orang yang beroposisi diwaspadai dan dilemahkan, bahkan dibuang jauh.
Secara sederhana, hebat (tidak)-nya seorang pemimpin dapat dilihat dari orang-orang yang mengitarinya. Jika mereka miskin prestasi, maka kualitas pemimpin itu pasti rendah dan tidak bermutu, begitu pula sebaliknya.
Dalam berbagai kesempatan, saya bertanya kepada kepala-kepala daerah, mengapa mereka tidak memilih orang yang cakap dan pintar. Mereka pun berdalih, jika tidak loyal, orang cakap dan pintar malah merepotkan dan bikin birokrasi tidak jalan. Alhasil, orang bodoh pun masih beruntung dan tetap laku, asal loyal. Model kepemimpinan tersebut pasti melahirkan sikap munafik, loyalitas semu, stagnasi, bahkan mental korup.
Lain halnya dengan pemimpin revolusioner. Dia adalah pemimpin yang kaya ide, mau berjuang untuk mewujudkan idenya, dan yang terpenting, dia selalu berani mengambil risiko atas pelaksanaan idenya itu.
Pemimpin revolusioner menyukai orang-orang yang memiliki kelebihan, bahkan kalau perlu melebihi kapabilitas dirinya. Dia tidak memikirkan kedudukan. Dia melihat bahwa keberhasilan kepemimpinannya akan terjadi jika ditopang oleh orang-orang yang berkualitas tinggi, dan bukan sebatas orang-orang yang berbekal loyalitas. Kalaupun loyalitas dianggap perlu, maka bukan loyalitas terhadap pemimpinnya, tetapi terhadap visi atau cita-cita besarnya.
Di bawah pemimpin revolusioner, orang pintar dan orang yang memiliki keahlian tinggi sangat beruntung. Mereka terhormat dan diberi ruang untuk mengekspresikan kepintaran dan keahliannya. Bahkan, diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya.
Sayang sekali, model pemimpin revolusioner tidak muncul di banyak tempat. Yang banyak bermunculan justru pemimpin yang ingin mendapatkan fasilitas, prestise, kehormatan, dan berbagai kenikmatan. Namun, kita tetap merindukan dan menunggu kehadiran pemimpin revolusioner itu.
Sumber
Jumat, 09 Desember 2011
Bersemangat Dalam Hidup

Semoga Allah yang Menggenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah di balik kejadian apapun yang menimpa. Dan, semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita.
Saudaraku, yang mahal dalam hidup ini adalah semangat dan kemampuan untuk mempertahankan semangat tersebut. Kita tidak akan pernah meraih apapun yang dalam hidup ini tanpa adanya semangat. Bahkan, kita pantas melupakan kesuksesan kalau kita tidak memiliki semangat.
Rahasia seorang pemimpin, rahasia seorang entrepreneur, dan seorang yang sukses adalah kemampuannya untuk selalu bersemangat dan mampu menularkannya pada orang lain. Dengan semangat yang menggebu, seseorang akan memiliki kemampuan untuk membaca peluang lebih banyak dibanding orang yang tidak bersemangat. Kalau orang sudah bersemangat dalam hidup, maka ia akan mampu berbuat lebih banyak. Dan, semangat itulah yang bisa menggerakkan. Seseorang rela berhujan-hujanan pergi ke pengajian. Apa sebabnya? Ia bersemangat mencari ilmu. Seorang pemuda rela pergi malam-malam ke rumah kekasihnya. Apa sebabnya? Ia bersemangat untuk bertemu dengan si dia.
Maka pertanyaan yang layak kita kemukakan adalah: bagaimana agar kita selalu bersemangat dalam hidup? Semangat akan tumbuh bila ada harapan. Setiap ada harapan, maka di sanalah ada semangat. Sebagai ilustrasi, ada seseorang terjebak dalam gua yang gelap. Badannya sudah lemah dan harapannya sudah hampir habis. Ketika itu ia melihat setitik cahaya dan terpaan semilir angin. Apa yang terjadi pada orang tersebut? Sudah dapat ditebak, semangatnya akan bangkit kembali. Ia menyangka bahwa di sekitarnya pasti ada lubang, dan ia pun akan berjuang untuk mencari lubang angin dan cahaya tersebut. Termasuk dalam bab cinta. Kita akan bersemangat mencintai seseorang, tatkala ada harapan untuk mendapatkannya.
Dari mana harapan itu datang? Ternyata, harapan tidak timbul dengan sendirinya. Harapan timbul dari input (informasi) yang kita dapatkan. Artinya, orang yang akan selalu bersemangat adalah orang yang memiliki kebiasaan (tradisi) mengumpulkan dan menghimpun informasi. Maka, kalau kita ingin menjadi orang yang selalu bersemangat dalam hidup, maka kita jangan pernah berhenti menghimpun informasi. Berhenti mencari informasi, harapan berkurang, maka semanagat pun pasti berkurang. Lalu, input atau informasi seperti apa yang harus kita dapatkan? Tentu input yang dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi standar BAL (benar, akurat, dan lengkap).
Sebuah keputusan yang tepat biasanya diawali dengan adanya tradisi pengumpulan informasi yang BAL. Kalau kita memiliki tradisi ini, kita akan semakin bersemangat dan memiliki peluang besar untuk menghasilkan keputusan yang tepat dalam hidup. Inilah modal yang paling mahal dari seorang yang ingin sukses dalam hidupnya.
Kalau kita menelaah Alquran, kata iqra sebagai kata pertama dari Alquran yang diturunkan pada Rasulullah SAW maknanya tidak sekadar membaca, tapi juga menghimpun informasi. Karena itu, tradisi mengumpulkan informasi jauh-jauh hari sudah diperintahkan Allah SWT.
Masalahnya, tradisi menghimpun informasi ini belum menjadi keseharian kita. Kebanyakan, hari-hari kita berlalu begitu saja tanpa ada manfaat. Kalaupun ada informasi yang masuk, mekanisme kita sering salah, serampangan, dan tidak dipilah-pilah. Karena itu, yang timbul adalah semangat emosi bukan semangat solusi. Jadi, kita harus mulai mengubah cara berpikir atau paradigma tentang informasi. Uang yang kita gunakan untuk menghimpun informasi bukan sebuah pengeluaran, tapi investasi.
Marilah kita iqra, punya tradisi, perangkat, uang untuk selalu bergerak berdasarkan informasi yang BAL agar tindakan kita benar-benar akurat. Kalau kita kaya dengan informasi, otomatis kita akan kaya dengan harapan, kaya dengan semangat, dan tindakan kita akan selalu tepat dan akurat. Pergi ke mana saja kita harus menjadi penghimpun informasi.
Artinya, bercita-cita apapun kita, pertanyaannya, sejauh mana kita gemar terhadap informasi yang BAL? Informasi bisa lewat buku, media cetak, televisi, internet, atau seorang guru. Karena itu, kalau kita berjumpa dengan seseorang, maka usahakan perjumpaan tersebut bisa menambah input yang benar bagi kita. Lihat pemilu, seharusnya mampu mendatangkan input bagi peningkatan kualitas diri kita. Intinya, dalam kondisi apapun jadikanlah kita penampung informasi yang BAL. Bila ini yang terjadi, Insya Allah hidup akan terasa lebih mudah.
Sumber
Rabu, 07 Desember 2011
Rezeki Allah SWT

Nabi SAW mengundang para sahabat untuk menghadiri walimatul ursy yang diadakan beliau dengan seorang wanita yang menjadi istrinya. Para sahabat hadir dan begitu mereka menyaksikan tentang rupa makanan yang dijamukan oleh Rasulullah SAW, mereka tak tahan untuk tidak memperbincangkannya.
"Darimana Rasulullah SAW akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari para istri-istrinya ? coba lihat, jamuan walimahnya saja cuma seperti itu ?"
Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh para sahabat saat itu. Usai menunaikan sholat, Rasulullah SAW menceritakan suatu kisah kepada para sahabat yang hadir.
"Ku ingin menceritakan suatu kisah perihal rezeki kepada kalian. Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku. Bolehkah aku meneruskan kisah ini kepada kalian ?"
Rasulullah SAW kemudian memulai kisahnya.
"Suatu ketika Nabi sulaiman a.s melakukan sholat ditepi pantai. Usai sholat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang mendengar si semut memanggil-manggil si katak. Tak berapa lama kemudian, lalu seekor katak muncul. Ada apa gerangan dengan si katak itu sehingga si semut terus-menerus memanggilnya tadi ? Nabi Sulaiman menyaksikan bahwa begitu si katak muncul, katak itu langsung saja menggendong sang semut masuk ke dalam air menuju dasar laut.
Ada apa di dasar laut ? Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa di sana ada berdiam seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rejekinya kepada si semut.
"Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu". Demikian si semut memberikan penjelasannya kepada Nabi Sulaiman a.s. "Siapakah malaikat itu, hai semut ?" tanya Nabi Sulaiman kepada si semut dengan penuh selidik. "Si katak sendiri. Malaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkan aku menuju dasar laut ".
Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, "Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut". Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.
"Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?"
Sumber
