:: Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh :: Selamat datang di website resmi Masjid Amal Bakti - Puncak Sekuning - Palembang :: Semoga isi dari website ini bisa bermanfaat untuk kita semua :: Terima kasih atas kunjungannya :: Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh ::
===========================================================
===========================================================

Senin, 26 Desember 2011

Awas Fitnah Wanita !


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya : "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita" (QS. An-Nisaa' 4 : 34)

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahwa Beliau bersabda, yang artinya : "Aku tidak meninggalkan satupun fitnah sepeninggalku yang lebih membahayakan para lelaki kecuali para wanita" (HR. Bukhari No. 5096 dan Muslim No. 2740)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu 'anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahwa Beliau bersabda, yang artinya : "Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian penguasa di atasnya lalu Dia memperhatikan apa yang kalian perbuat. Karenanya takutlah kalian kepada (fitnah) dunia dan takutlah kalian dari (fitnah) wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama (yang menghancurkan) Bani Israil adalah dalam masalah wanita" (HR. Muslim No. 2742)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya : "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)" (QS. Ali Imran 3 : 14)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kecintaan kepada wanita adalah hal yang fitrah dan bersifat alami. Karenanya bukan hal yang terlarang seorang lelaki mencintai dan menyukai wanita selama kecintaannya adalah kecintaan yang syar'i, diwujudkan dalam wujud yang syar'i, dan kecintaan tersebut tidak mengganggu ibadahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Hanya saja, tatkala realita kecintaan kepada wanita -sejak dahulu sampai sekarang- menjadi salah satu sebab terbesar yang membahayakan agama setiap lelaki, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya memperingatkan akan fitnah yang satu ini.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa fitnah wanita ini tidak hanya menimpa dan membahayakan umat ini, tapi sungguh dia telah menghancurkan umat-umat terdahulu yang lebih kuat dibandingkan mereka yaitu Bani Israil.

Dan juga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa dari semua fitnah yang membahayakan kaum lelaki seperti harta, kekuasaan, dan wanita, yang paling menghancurkan dirinya adalah wanita.

Banyak orang yang bisa menjaga dirinya dari fitnah harta, banyak juga orang yang tidak mau dengan kekuasaan, tapi sangat sedikit sekali orang yang bisa menolak wanita, karenanya dia merupakan fitnah yang terbesar.

Karenanya wajib atas setiap lelaki yang mempunyai wanita dalam tanggungannya, baik istrinya atau anaknya atau saudarinya atau selainnya untuk menjaga dan mengawasi tanggungannya tersebut.

Jangan sampai mereka merusak dirinya dan juga merusak orang lain. Karena mereka bisa menyebarkan fitnah kemana-mana dan merusak masyarakat jika tidak dijaga dengan baik.

Berduaan dengannya adalah fitnah, bercambur baur dengan mereka adalah fitnah, keluarnya dia dari rumahnya tanpa keperluan adalah fitnah, menuruti semua yang mereka minta adalah fitnah, keluar dengan berdandan adalah fitnah, dan selainnya.

Karenanya hendaknya setiap lelaki bertakwa kepada Allah atas amanah yang dibebankan kepada mereka.

Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan Segala Kemuliaan. Curahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, juga kepada para keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta Alam. Amiin.

Sumber

Baca Selengkapnya......

Sabtu, 24 Desember 2011

Meninggalkan Khianat, Mendapat Rahmat


Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar Al-Anshari berkata: "Dulu, aku pernah berada di Makkah semoga Allah SWT selalu menjaganya, suatu hari aku merasakan lapar yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan laparku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera yang diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula. Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, aku dapatkan didalamnya sebuah kalung permata yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

Aku lalu keluar dari rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, 'Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata'. Aku berkata pada diriku, 'Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini padanya'. Maka aku berkata pada bapak tua itu, 'Hai, kemarilah'. Lalu aku membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, dia menceritakan padaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, ciri-ciri permata dan jumlahnya berikut benang yang mengikatnya. Maka aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi aku tidak mau mengambilnya. Aku katakan padanya, 'Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu'. Ternyata dia bersikeras, 'Kau harus mau menerimanya', sambil memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tak mau menerima. akhirnya bapak tua itu pun pergi meninggalkanku. Adapun aku, beberapa waktu setelah kejadian itu aku keluar dari kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpangan itu pecah, orang-orang semua tenggelam dengan harta benda mereka. Tetapi aku selamat, dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut, tak tahu ke mana hendak pergi!

Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di salah satu masjid mereka sambil membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, tak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang kepadaku dan mengatakan, 'Ajarkanlah Al-Qur'an kepadaku'. Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak. Di dalam masjid, aku menemukan beberapa lembar dari mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, 'Kau bisa menulis?', aku jawab, 'Ya'. Mereka berkata, 'Kalau begitu, ajarilah kami menulis'. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat banyak uang. Setelah itu mereka berkata, 'Kami mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?' Aku menolak. Tetapi mereka terus mendesak, 'Tidak bisa, kau harus mau'. Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga. Ketika mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya. Tak ada yang aku lakukan saat itu kecuali terus memperhatikan kalung permata itu. Mereka berkata, 'Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya'. Maka saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. 'Ada apa dengan kalian?', kataku bertanya. Mereka menjawab, 'Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini'. Dia pernah mengatakan, 'Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku'. Dia juga berdoa, 'Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku', dan sekarang sudah menjadi kenyataan'.

Aku mulai mengarungi kehidupan bersamanya dan kami dikaruniai dua orang anak. Kemudian isteriku meninggal dan kalung permata menjadi harta pusaka untukku dan untuk kedua anakku. Tetapi kedua anakku itu meninggal juga, hingga kalung permata itu jatuh ke tanganku. Lalu aku menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari uang 100 ribu dinar."

Sumber

Baca Selengkapnya......

Jumat, 23 Desember 2011

Kumpulan Hadits Tentang Zakat dan Sedekah


= KUMPULAN HADITS TENTANG ZAKAT =

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya :

"Apabila engkau memiliki 200 dirham dan telah melewati satu tahun, maka zakatnya 5 dirham. Tidak wajib atasmu zakat kecuali engkau memiliki 20 dinar dan telah melewati setahun, maka zakatnya 1/2 dinar. Jika lebih dari itu, maka zakatnya menurut perhitungannya. Harta tidak wajib dikeluarkan zakat kecuali telah melewati setahun" (HR. Abu Dawud dari Ali ra.)

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka" (HR. Muttafaq 'Alaihi dari Ibnu Abbas ra.)

Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, "Aku hartamu, aku pusaka simpananmu. Kemudian Rasulullah membaca firman Allah surat Ali-Imran ayat 180 : Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi" (HR. Bukhari)

"Tiada suatu kaum menolak mengeluarkan zakat melainkan Allah menimpa mereka dengan paceklik (kemarau panjang dan kegagalan panen)" (HR. Ath-Thabrani)

"Barangsiapa memperoleh keuntungan harta (maka) tidak wajib zakat sampai tibanya perputaran tahun bagi pemiliknya" (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Penjelasan : Perhitungan perputaran tahun (haul) untuk menunaikan zakat ialah dengan tahun Hijriyah.

= KUMPULAN HADITS TENTANG SEDEKAH =

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya :

"Tidaklah sodaqoh itu akan mengurangi harta kekayaan"(HR. Muslim)

"Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat" (HR. Al-Hakim)

"Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya" (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (di dalam hadits Qudsi), "Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu" (HR. Muslim)

"Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka" (HR. Bukhari)

"Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, Sodaqoh yang bagaimana yang paling besar pahalanya? Rasulullah menjawab, Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian" (HR. Bukhari)

"Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma" (HR. Mutafaq'alaih)

"Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh" (HR. Al-Baihaqi)

"Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana" (HR. Ath-Thabrani)

"Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya" (HR. Ahmad)

"Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya" (HR. Ahmad)

"Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu? Rasulullah menjawab, Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya. Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu? Rasulullah menjawab, Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya. Mereka bertanya, Bagaimana kalau dia tidak melakukannya? Rasulullah menjawab, Menyuruh berbuat ma'ruf. Mereka bertanya, Bagaimana kalau dia tidak melakukannya? Rasulullah menjawab, Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh" (HR. Bukhari dan Muslim)

"Beberapa orang dari sahabat Rasulullah mengadu kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu telah pergi membawa banyak pahala. mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka bersodaqoh dengan kelebihan harta mereka. Rasulullah bersabda, Apakah Allah tidak menjadikan bagi kalian untuk bersodaqoh? Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sodaqoh, dan setiap takbir sodaqoh, dan setiap tahmid sodaqoh, dan setiap tahlil sodaqoh, memerintahkan kepada kebajikan sodaqoh, melarang dari hal yang mungkar sodaqoh, bahkan pada budz'i (hubungan suami istri) kalian adalah sodaqoh. Mereka berkata, Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dari kami mendatangi syahwatnya kemudian dia mendapatkan pahala? Rasulullah bersabda : Bagaimana menurut kalian, jika dia meletakkannya pada yang haram apakah dia berdosa? Demikian juga jika dia meletakkan pada yang halal, maka dia mendapatkan pahala" (HR. Muslim dari Abu Dzar)

"Apabila seseorang menafkahi ahli keluarganya (anak dan Istri) dengan meyakini akan janji Allah serta mengharapkan pahala dari-Nya, maka bagi orang tersebut nafkahnya itu dihitung sodaqoh" (HR. Imam Bukhari dari Abu Mas'ud ra.)

"Sesungguhnya tiadalah kamu apabila menafkahi keluarga mu satu perbelanjaan yang dengannya kamu mengharapkan keridhaan Allah, melainkan pasti kamu diberi pahala atasnya. Bahkan satu suap makanan yang kamu antarkan ke mulut isterimu sekalipun (kamu tetap akan mendapatkan pahalanya)" (HR. Imam Bukhari dari Sa'ad bin Abi Waqash ra.)

"Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya" (HR. Bukhari)

Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan Segala Kemuliaan. Curahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, juga kepada para keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta Alam. Amiin.

Sumber

Baca Selengkapnya......

Kamis, 22 Desember 2011

4 Nasib Manusia


Dilihat dari segi nasib, bahagia atau sengsara saat di dunia dan di akhirat, manusia akan mengalami salah satu dari empat nasib; bahagia di dunia-bahagia di akhirat, sengsara di dunia-bahagia di akhirat, bahagia di dunia-sengsara di akhirat dan sengsara di dunia-sengsara pula di akhirat.

Sebelum keempat nasib ini dirinci, perlu dicatat bahwa "bahagia di dunia" yang dimaksud bukanlah kebahagiaan hakiki berupa kebahagiaan dan ketenangan ruhani karena berada di bawah naungan ridha ilahi.

Tapi yang dimaksud adalah kebahagiaan yang oleh kebanyakan orang dipersepsikan sebagai kebahagiaan; harta melimpah, hidup nan serba mudah dan musibah yang seakan-akan enggan untuk singgah.

Nah sekarang mari kita rinci satu persatu..

= BAHAGIA DI DUNIA - BAHAGIA DI AKHIRAT =

Nasib yang paling diidamkan semua orang. Semboyan "kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya mati masuk surga" menjadi puncak khayalan yang diinginkan manusia.

Tapi benarkah ada orang yang di dunia kaya dan saat di akhirat beruntung mendapat Jannah-Nya ??? Tentu saja ada. Itulah orang yang mendapat fadhlullah, anugerah istimewa dari Allah.

Dalam sebuah hadits yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa suatu ketika para shahabat yang ekonominya lemah mengadu pada Rasulullah tentang rasa iri mereka terhadap shahabat lain yang kaya. Yang kaya bisa infaq banyak tapi juga melakukan ibadah yang sama dengan yang mereka lakukan setiap hari.

Lalu Rasulullah mengajarkan dzikir-dzikir yang dapat mengimbangi pahala infaq. Tapi ternyata shahabat yang kaya juga mendengar dzikir ini lalu mengamalkannya.

Saat ditanya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Itulah anugerah Allah yang akan diberikan kepada siapapun yang dikehendaki"

Itulah anugerah Allah. Allah membagi rezeki sesuai kehendak-Nya. Ada yang sedikit ada yang banyak. Sebagian orang ada yang dikarunia rezeki melimpah, hidupnya pun serba mudah.

Namun begitu, ternyata semua itu tidak memalingkannya dari cahaya hidayah. Harta yang dikaruniakan gunakan untuk membangun rel yang memuluskan jalan mereka menuju jannah. Rel-rel yang dibangun adalah besi-besi berkualitas dari infaq fisabilillah, sedekah kepada fakir miskin dan yatim dan berbagai proyek amal jariyah. Lebih daripada itu, harta itu juga digunakan untuk membeli berbagai fasilitas yang dapat membantu meraup ilmu mulai dari buku hingga biaya untuk belajar kepada para guru. Kesehatan dan kemudahan hidup digunakan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan pengabdian kepada Allah.

Dengan semua ini, insya Allah, kebahagiaan yang lebih abadi di akhirat telah menanti. Kalau sudah begini, manusia semacam ini memang sulit ditandingi. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.

= SENGSARA DI DUNIA - BAHAGIA DI AKHIRAT =

Ini nasib kebanyakan orang-orang beriman. Kehidupan di dunia bagi mereka seringnya menjadi camp pelatihan untuk menempa iman.

Kesulitan hidup berupa sempitnya kran rezeki memicu munculnya ujian-ujian kehidupan seperti tak terpenuhinya kebutuhan logistik, pendidikan, sandang dan papan. Atau kesulitan hidup berupa kekurangan dalam hal fisik; buta, bisu, buntung, lumpuh dan sebagainya. Dera dan cobaan yang kerap kali menguras airmata dan menggoreskan kesedihan dalam jiwa.

Namun begitu, iman mereka menuntun agar bersabar menghadapi semua dan tetap berada di jalan-Nya. Dan pada akhirnya, selain iman yang meningkat, semua kesengsaraan itu akan diganti dengan kebahagiaan yang berlipat.

Rasa sakit, sedih dan ketidaknyamanan hati seorang mukmin akan menjadi penebus dosa dan atau meningkatkan derajat. Sedang di akhirat, hilangnya dosa berarti hilangnya halangan menuju kebahagiaan di dalam jannah dengan keindahannya yang memikat. Dan tingginya derajat keimanan adalah jaminan bagi seseorang untuk mendapatkan kemuliaan di akhirat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya : "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Al-Baqarah 2 : 155-157)

= BAHAGIA DI DUNIA - SENGSARA DI AKHIRAT =

Kalau yang ini adalah gambaran rata-rata kehidupan orang-orang kafir dan manusia durhaka. Sebagian mereka bergelimang harta, hidup mewah dan dihujani kenikmatan-kenikmatan melimpah.

Mereka bebas mencari harta, tanpa peduli mana halal mana haram. Sebagian yang lain barangkali tidak mendapatkan yang semisal. Tapi mereka mendapatkan kebebasan dalam hidup karena merasa tidak terikat dengan aturan apapun. Aturan yang mereka patuhi hanya satu "boleh asal mau atau tidak malu"

Merekalah yang menjadikan dunia sebagai surga dan berharap atau bahkan yakin bahwa yang Maha Kuasa akan memaklumi kedurhakaan dan kelalaian mereka dari perintah-Nya, lalu memasukkan mereka ke jannah-Nya. Padahal sejak di dunia mereka telah diperingatkan :

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya : "Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras" (QS. Luqman 31 : 24)

= SENGSARA DI DUNIA - SENGSARA DI AKHIRAT =

Inilah orang paling celaka dalam sejarah kehidupan manusia, dunia akhirat. Di dunia hidup miskin, susah payah mencari sesuap nasi dan hutang menumpuk karena usaha selalu tekor hingga hidup pun tak nyaman karena diburu-buru debt kolektor.

Atau hidup dalam keterbatasan karena cacat di badan dan masih ditambah ekonomi yang pas-pasan. Dan dengan semua itu, mereka tidak memiliki harapan untuk hidup bahagia di akhirat meski hanya seujung jari, karena iman sama sekali tidak tumbuh dalam hati. Di penghujung hidup mereka mati dalam kondisi kafir, menolak beriman kepada Allah Rabbul Izzati.

Dan di akhirat, neraka yang menyala-nyala telah menanti. Karena ketiadaan iman, mereka tidak akan mendapatkan belas kasihan. Hukuman akan tetap dijalankan karena di dunia mereka telah diperingatkan. Na'udzu billah, semoga kita terhindar dari keburukan ini.

Padahal yang didunia sempat merasakan kesenangan saja, apabila dicelupkan ke dalam neraka, akan musnah semua rasa yang pernah dicecapnya. Lantas bagaimana dengan yang sengsara di dunia dan berakhir dengan siksa di neraka ???

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya : "Bekerja keras lagi kepayahan, -sedang di akhirat- memasuki api yang sangat panas" (QS. Al-Ghasiyah 88 : 3-4)

= KITA MASIH BISA MEMILIH =

Dari keempat kondisi di atas, sebisanya kita tempatkan diri kita pada yang pertama.

Caranya ??? Dengan sungguh-sungguh bekerja agar kehidupan dunia sukses dan mulia. Bersamaan dengan itu, kesuksesan itu kita gunakan untuk membeli kebahagiaan yang jauh lebih kekal di akhirat.

Jika tidak bisa, pilihan kita hanya tinggal kondisi kedua karena yang ketiga hakikatnya sama-sama celaka dengan yang dibawahnya. Meskipun hidup di dunia kita harus berkawan dengan sengsara, tapi dengan iman di dada kita masih layak tersenyum karena harapan itu masih ada. Harapan agar dimasukkan ke dalam jannah yang serba mewah, atas ijin dan ridha dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemurah.

Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan Segala Kemuliaan. Curahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, juga kepada para keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta Alam. Amiin.

Sumber

Baca Selengkapnya......